Kamis, 23 Juli 2015

Berburu Takjil


 
Takjil Masjid Kampus UGM

Peserta Para Pencari Takjil

Peserta Para Pencari Takjil 2

Bulan ramadhan tahun ini gue berniat buat taraweh keliling masjid di Jogja. Alhamdulillah cuma beberapa masjid yang gue berhasil kelilingi. Selain teraweh gue juga punya keinginan buat berburu takjil. Alhamdulillah cuma 2 masjid aja yang berhasil gue kunjungi.

Masjid pertama yang gue kunjungi buat mencari takjil gratisan adalah di masjid kampus UGM. Sore itu gue cabut dari rumah ke masjid kampus jam 17.15. Tidak lupa gue cari parkiran yang aman di dekat tangga masjid yang sudah sebelumnya menjulur mobil dan motor yang terparkir dari ujung parkiran sampai penuh. Terang saja pas gue menuju masjid, orang-orang sudah pada kumpul pada posisi duduk masing-masing. Ada yang duduk di samping air mancur, ada yang duduk di dalam masjid kampus, dan ada yang duduk di pekarangan dan pelataran masjid. Karena gue nggak tau ngambil takjil dimana, gue tanya ke salah satu peserta PPT(Para Pencari Takjil). Langsung aja gue datangi yang jaga takjil. Dimeja sudah tersedia sebungkus nasi dan air teh dalam gelas plastik. 

Waktu buka pun tiba, orang-orang termasuk gue memulai ritual membuka sebungkus nasi itu. Di dalamnya tersaji ikan bandeng dan satu gorengan. Lumayan, namanya juga gratisan nggak bisa minta lebih. Sore itu jadilah gue bebrbuka gratis di masjid kampus UGM.

Majid kedua yang gue kunjungi adalah masjid kauman atau masjid agung di Jogja dekat kraton. Seperti biasa masjid tersebut tidak pernah sepi peserta/pengunjung. Sesampai gue disana acara masih ceramah agama. Gue diarahkan buat ambil takjil dulu di pelataran masjid dekat tangga ke luar pelataran. Gue membawa sebungkus nasi dan secangkir teh manis. Gue cari posisi yang ada buat gue duduk sambil mendengarkan ceramah. 20 menit kemudian azan berkumandang menandakan waktu berbuka puasa telah tiba. Perlahan tapi pasti gue buka bungkusan itu. Didalamnya tersaji gulai tongseng daging sapi meskipun lebih dibilang jeroannya sapi. Namanya gratisan lo nggak bisa minta lebih. 

Dari pengalaman gue, 2 masjid tersebut langsung memberikan bukaan berat alias makanan beras alias Nasi dan lauk. Kalo masalah rasa menurut gue lumayan. Karena gratis lo nggak bisa minta lebih.

Temu Bayu


 Judulnya kemarin ketemu Bayu. Mumpung Bayu sedang kunjungan kerja di Jogja, sekalian kita kumpul di Amplaz Plaza Jogja. Sekalian kumpul sekalian buka bersama juga.
Kebetulan Bayu kunjungan sendiri tanpa pendampingnya yang kerja di Jakarta. Bayu baru saja menikah beberapa bulan lalu.
Disana ad ague, Irwan, Yayat, Muhajir, dan istrinya yayat.

Jumat, 03 Juli 2015

Cek Fisik Bantuan di Samsat Yogyakarta untuk Pajak Motor 5 Tahunan Luar Kota


Kemarin, tanggal 1 juli 2015, saya pergi ke Samsat kota Yogyakarta yang berada di jalan Magelang. Jika pergi ke sana tentu saja berhubungan dengan kendaraan bermotor. Keperluan saya kesana untuk membuat laporan cek fisik guna membayar pajak kendaraan motor 5 tahunan di kota ku.
Sekitar pukul 11.30 saya sampai di Samsat Jogja. Setelah menempatkan motor di barisan cek fisik, saya masuk ke sebuah ruangan untuk mengisi form untuk cek fisik. Form diberikan oleh seorang polisi yang mengurusi bagian cek fisik untuk keperluan perpanjangan dan pembayaran pajak.
Untuk keperluan pembayaran pajak tidaklah terlalu rumit. Berkas yang saya lengkapi diantaranya fotokopi BPKB, STNK, dan KTP atas nama STNK motor. Saya diberi form yang harus diisi. Form ini digunakan sebagai keterangan cek fisik. Berikan berkas ke polisi yang bertugas beserta STNK asli dan form yang sudah diisi. Setelah itu polisi bertugas akan memberikan kertas cek fisik untuk proses penggesekan nomor rangka dan nomor mesin.
Setelah pengambilan nomor rangka dan mesin selesai berikan kertas ke polisi yang petugas. Polisi akan memproses sampai akhirnya kita mendapatkan surat keterangan cek fisik. Biaya yang dikeluarkan untuk pembuatan cek fisik di Samsat Yogyakarta sebesar Rp 30.000.

Kamis, 25 Juni 2015

Desaku-Pelawe


Tau-tau inget sama desa dimana orang tua ku berasal. Iseng-iseng coba cari di youtube, ternyata nemu dokumenternya. Meskipun nggak kenal sama yang meranin dan yang buat, namun dilihat dari hasil videonya cukup professional.
Hampir 5 tahun lebih nggak pernah balik ke desa. Gimana ya keadaannya sekarang?Apakah masih seperti dulu. Mandi disungai Musi, lampu PLN belum masuk, kalau malam sepi, dll. Penasaran gimana desaku, silahkan lihat videonya.



Sabtu, 20 Juni 2015

Menanti Kedatangan Prabowo di Masjid Kampus UGM


 
Jamaah sampai pelataran masjid untuk shalat
Di malam ketiga Ramadhan, suasana di masjid Kampus UGM sedikit berbeda. Malam ini akan hadir tokoh Indonesia Prabowo Subianto sebagai penceramah. Banyaknya jamaah tak terbendung hingga harus sampai ke pelataran dan halaman masjid.
Malam ini(20/6/2015), Bapak Prabowo dijadwalkan sebagai pengisi ceramah. Namun apa daya, jamaah sedikit kecewa karena tokoh calon presiden RI ini tidak dapat hadir. Namun, jamaah terobati karena panitia telah menyiapkan penceramah pengganti.
Jalanan penuh dengan kendaraan yang akan masuk ke area kampus UGM. Beberapa jamaah shalat Isya dan Terawih berlari-lari kecil mempercepat menuju arah masjid. Azan sudah berkumandang dan sebentar lagi akan diikuti ikomat.
Aku yang masih dijalan bergegas mempercepat laju kendaraan ku menuju parkiran masjid. Tak disangka parkiran sudah penuh hingga aku harus beralih menuju pintu utara masjid. Menuju tempat wudhu sudah ramai orang mengantri.
Diawal masuk area masjid dengan ramainya orang yang datang, tak terpikirkan oleh ku bahwa akan datang orang penting malam ini. Bagiku biasa-biasa saja jika masjid kampus UGM akan seramai ini karena letaknya yang berada di tengah kota. Setelah wudhu tampak orang-orang sudah pada posisi safnya masing-masing hingga ke pelataran luar masjid. Pelataran luar masjid kampus UGM beralaskan rumput dan semen sehingga orang-orang sibuk mencari kertas Koran untuk alas. Sepertinya mereka juga sama sepertiku, mala mini akan datang sosok penting di negeri ini.

Bada shalat isya panitia mulai berdiri di atas mimbar dan mengumumkan bahwa beliau yang akan berceramah tidak dapat hadir dengan alas an-alasannya. Sedikit kecewa memang. Jamaah cukup terobati dengan pencerama lain yang sudah dipersiapkan dengan materi ceramah yang menghibur dan mengundang gelak tawa para jamaah..

Jumat, 19 Juni 2015

Meet and Greet Andrea Hirata, Launching Novel Ayah 2015

Panggung Mini Meet and Greet Andrea Hirata

Sore hari tampak begitu ramai ditepi jalan Suroto Yogyakarta. Tepat di halaman depan toko buku Togas Mas berdiri panggung kecil dengan backdrop bertuliskan Meet and Greet Andrea Hirata. Tampak peserta mengantri untuk registrasi di meja panitia yang berada di sisi kiri panggung. Tepat pukul 16.00 acara launching buku Novel terbaru Andrea Hirata di Yogyakarta dimulai.

Suasana registrasi peserta 

Acara diawali penampilan Mbak Meda diiringi alunan gitar dan biola dari Neno dan Dika Chasmala. Beberapa menit kemudian acara inti, Sang penulis novel terkenal yang telah menerbitkan 9 novel best seller, Andrea Hirata, memasuki panggung mini yang telah disediakan.
Penampilan Mbak Meda diiringi Neno dan Dika Chasmala

“Yuk, semuanya mendekat.”, Kata Pak cik sapaan akrab penggemar Andrea Hirata. Pak Cik mempersilahkan peserta acara untuk lebih dekat ke panggung. Lebih dari 50 orang berkumpul didepan panggung mengikuti acara dengan seksama.

Pak Cik Andrea menceritakan novelnya

Sang penulis menyapa peserta dengan ramahnya. Selanjutnya Pak Cik mulai bercerita mengenai novel terbarunya ini. Acara diselingi dengan musik yang sudah siap menghibur para penonton. Acara sedikit berbeda menurut penyelenggara, dari bentang pustaka, dengan hadirnya musisi yang didatangkan langsung dari Jakarta dan Belitong.

Pak Cik tak ketinggalan menunjukkan kemampuan musiknya dengan memainkan gitar mengiringia Mbak Melda yang menyanyikan sebuah lagu. Mbak Melda adalah salah seorang penyanyi dan pencipta lagu. Beliau juga menciptakan sebuah lagu yang berjudul Hai Ayah. Lagu ini terinsiprasi dari buku novel Andrea Hirata.

Sebuah lagu Hai Ayah dinyanyikan diiringi Pak Cik Andrea. Makna lagu ini begitu mendalam sehingga mengingatkan kita kepada sosok Ayah yang membesarkan kita.

Diakhir acara penampilan dari Dendi dan Paula yang merupakan anak didik Pak Cik didatangkan langsung dari Belitong. Mereka berdua berdemo gitar diiringi Biola.

Sesi terakhir ditutup dengan sesi tanda tangan sang penulis. Masing-masing peserta berbondong-bondong membawa novel dan menyodorkannya kepada sang penulis. Peserta juga mendapatkan kesempatan untuk foto bareng bersama Pak Cik Andrea. Sang penulis juga menyempatkan diri untuk berterima kasih karena telah membeli karyanya yang asli. 

Dua orang peserta mengumandangkan puisi dari buku novel Ayah


Pak Cik Andrea foto bareng peserta

Pak Cik Andrea menjawab pertanyaan dari peserta

Satu Jam Bersama Syekh Akhmad Samir Albadawi dari Palestina


Syekh Akhmad Samir Albadawi didampingi tim ATC sebagai penerjemah

Malam kedua di Masjid Nurul Ashri, Deresan, Yogyakarta, begitu istimewa dengan kedatangan Syekh Akhmad Samir Albadawi dari Palestina. Kedatangan beliau ke Indonesia untuk menyampaikan informasi terkini mengenai Palestina.
Syekh Akhmad Samir Albadawi menyempatkan diri untuk menjadi imam shalat Isya sekaligus shalat Terawih. Selesai shalat terawih takmir masjid menyiapkan acara untuk tabligh akbar beliau.
Dipandu salah seorang penerjemah dari tim ACT(Aksi Cepat Tanggap) Indonesia, beliau menyampaikan tentang informasi keadaan Palestina terkini. Beliau memperlihatkan beberapa buah foto keadaan kota Gaza di Palestina. Dari foto yang disajikan tampak kota Gaza masih sangat memprihatinkan. Hampir seluruh kota Gaza luluh lantak diserang tentara Israel. 
Bangunan-bangunan seperti sekolah, rumah sakit, dan masjid tidak luput dari bombardir tank-tank dan pesawat Israel. “Gaza dikepung dari darat, laut, dan udara.”, Begitu beliau menyampaikan.
Beliaupun memberi pesan kepada masyarakat Indonesia untuk membantu kota Palestina yang berdiri di dalamnya Masjid Al Aqsa. Beliau mengucapkan terima kasih kepada masyarakat Indonesia yang telah membantu saudara muslim di Palestina. 
Diakhir acara beliau menjawab beberapa pertanyaan yang diajukan oleh para jamaah.