 |
| Sesi foto bersama sebelum perang |
Hari minggu kemarin Aku bersama sembilan orang temen ku bermain Paint Ball. Ini pertama kalinya aku bermain game Paint Ball. Seperti biasa rencana main Paint Ball kami lakukan beberapa hari sebelum hari H, mengingat biasanya rencana yang kami lakukan dari jauh-jauh hari, saat eksekusi hampir gagal.
“Kamu punya waktu nggak Yan. Kita mau main Paint Ball bareng Yayat sama Rimai.”, ucap Irwan mengajak ku.
“Boleh. Aku punya waktu kok. Kapan main Paint Ballnya?”, Tanya ku ke Irwan.
“Hari senin besok gimana? Soalnya kalau hari minggu lebih mahal bayarnya.”, Jawab Irwan.
“Kalau hari minggu 70 ribuan. Tapi kalau hari senin sampai kamis cuma bayar 65 ribu.”, ucap Mela yang duduk disamping Irwan sembari menjelaskan detail harga main Paint Ball.
“Ok, cuma orang lima aja?”, Tanya ku lebih lanjut.
“Ajak Muhajir sama Pri. Baru tujuh. Kita butuh tiga orang lagi ini.”, Jawab Irwan enteng.
Hari H pun tiba dan terkumpul 10 orang untuk main Paint Ball. Mereka adalah Aku, Mela, Irwan, Yayat, Rimai, Pri, Muhajir, Pandi, Oobi temennya Pri, dan Pasta temen kita semua.
Dari tempat berkumpul, di kosan irwan, kami berangkat menuju arena permainan. Perjalanan membutuhkan waktu 30 menit untuk sampai ke tujuan. Arena permainan Paint Ball berada di komplek STTA Adi Sucipto Yogyakarta, Ringroad Timur.
“Ayo briefing!”, kata seorang petugas Paint Ball. Petugas itu akan memberikan arahan permainan dan tata cara bermain.
“Sebelum bermain ada beberapa arahan dari saya. Pemain harus memakai seragam yang telah disediakan berupa baju pelapis dalam/rompi dan pakaian seragam. Sudah di bagi kelompoknya?”
“SUDAHHH”, teriak kami keras. Kami seperti anggota pasukan khusus yang akan pergi berperang. Tujuan dari pembagian regu adalah untuk membedakan antara lawan dan kawan. Petugas melanjutkan penjelasannya.
“Kalau sudah, kostum ada dua warna, loreng putih dan loreng coklat. Masing-masing orang harus memakai helm pelindung. Permainan dibagi menjadi 2 ronde. Aturan permainan kita menggunakan dua aturan. Aturan pertama jika pemain tertembak di bagian kepala atau badan maka dianggap gugur dan harus keluar dari arena permainan. Aturan kedua jika peluru pemain habis maka pemain gugur dan harus keluar dari arena permainan. Ada pertanyaan?”
Kami menggelengkan kepala. Tidak ada pertanyaan. Petugas kembali melanjutkan penjelasannya.
"Jangan pernah membuka pelindung kepala atau helm saat masih berada di arena permainan. Masing-masing pemain akan disediakan enam puluh peluru untuk dua ronde. Jadi ronde pertama tiga puluh peluru. Tapi, kalau permainan cepat selesai, maka akan dilanjutkan di ronde ketiga dengan disediakan sepuluh peluru saja." Kami mengangguk-ngangguk tanda mengerti. Penjelasan masih berlanjut. Petugas beralih menjelaskan senjata yang akan kami gunakan untuk menembak.
“Ini namanya Marker/senjata yang digunakan untuk menembak lawan main. Kami menyediakan 30 peluru untuk ronde awal yang berada di dalam Loader/rumah peluru. Samping kiri dan kanan dari marker ada tombol kecil. Tombol ini berfungsi untuk mengaktifkan pelatuk. Kalau saya bilang ‘hit on’ maka tombol kanan ditekan kedalam. Kalau saya bilang ‘hit off’ maka tombol kiri ditekan kedalam. Paham ya!”
“PAHAAMMM”, teriak kami keras.
"Kalau tidak ada pertanyaan, siap-siap pakai sepatu. Kalau tidak memakai sepatu tidak usah pakai alas kaki alias ceker ayam saja."
Briefing pun selesai. Selanjutnya, kami memakai seragam permainan beserta perlengkapan intinya.
Arena permainan sudah diset sedemikian rupa dengan balon-balon udara berbagai bentuk sebagai tameng atau untuk sembunyi dari lawan. Tembak menembak pun terjadi. Belum sampai lima menit permainan, Muhajir yang satu regu dengan ku tertembak dibagian kepala-tepatnya kena helm bagian kacamata. Muhajir mengangkat tangan dan teriak.
“Aku kena.”
Cairan kuning menempel di helm Muhajir. Secara aturan yang telah dibuat Muhajir harus keluar arena karena telah gugur dimedan perang. Kalompok ku tinggal 4 orang. Kami saling membidik satu sama lain.
Dan akhirnya regu ku yang terdiri dari aku, Muhajir, Mela, Pandi, dan Pri harus mengakui keunggulan lawan yang terdiri dari Irwan, Yayat, Rimai,Obi, dan Pasta. Sungguh menyakitkan.
Dironde kedua kami menyiapkan strategi menyerang dari samping, dan begitu juga kelompok Irwan yang menyerang dari samping. Dua regu sama-sama menyerang dari samping.
Ronde kedua berjalan lebih seru dari ronde pertama.
“Aduh, pantatku kena!”, Ucap Pri keras dari balik balon memegang pantatnya yang kena tembak. Sesuai dengan aturan permaian yang kena pantat belum terhitung gugur. Pri masih melaju dimedan perang.
Satu demi satu pemain keluar dari persembunyiannya dengan mengangkat tangan tanda telah gugur. Termasuk diriku sendiri yang terkena tembak dibagian kepala. Setelah permainan bari ku tahu peluru yang bersarang dikepalaku dari senapan irwan. Aku mati.
Meskipun peperangan berlangsung lama, bukan berarti peperangan berjalan dengan baku tembak ala perang Irak, sengit. Melainkan kami sama-sama menunggu dan membidik supaya tepat sasaran dan tidak membuang peluru sia-sia. Permainan kembali dimenangkan oleh regu Irwan. Poin 2-0 untuk Irwan dan teman-teman.
Karena peluru yang digunakan pada ronde 1 dan ronde masih tersisa, berdasarkan penjelasan diawal maka akan ada ronde ke 3 dengan disediakan 10 peluru saja. Aturan ronde ketiga berbeda dengan ronde sebelumnya. Aturan ronde ke tiga adalah tidak ada yang dianggap gugur sampai peluru habis. Artinya adalah pemain bisa menembak sepuasnya ke arah lawannya sampai peluru habis.
Ronde ketiga pun berlanjut. Setelah aba-aba dimulai tembakan membabi buta terjadi. Karena aturan gugur jika peluru habis, maka ronde ini menjadi ajang pertempuran jarak dekat. Semua pemain menembak dari Jarak dekat.
Pandi berlari dari balik balon udara menuju irwan yang berjarak beberapa meter didepan Pandi dan juga bersembunyi dari balik balon. Serangan dekat Pandi ke Irwan berjalan dengan sukses. Sialnya serangan terjadi saat senapan Irwan lagi macet sehingga peluru tidak terlontar keluar saat di tarik pelatuknya. Tanda bulat merah membekas di tubuh Irwan.
Pandi juga menjadi sasaran empuk bagi teman-teman Irwan yang berada disamping kiri dan kanan Irwan. Pandi keluar arena memegang bagian tubuhnya yang terkena tembak sambil meringis kesakitan.
Akupun harus keluar dengan menahan rasa sakit karena tertembak dibagian lengan dan bagian pantat 2 kali. Namun aku sempat mengenai lawan di bagian kepala. Itu siapa ya?
Permainan pun selesai dengan suasana senang gembira. Meskipun harus menahan rasa sakit karena tertembak, namun kebersamaan terjalin dengan Indah.