Kamis, 25 Juni 2015

Desaku-Pelawe


Tau-tau inget sama desa dimana orang tua ku berasal. Iseng-iseng coba cari di youtube, ternyata nemu dokumenternya. Meskipun nggak kenal sama yang meranin dan yang buat, namun dilihat dari hasil videonya cukup professional.
Hampir 5 tahun lebih nggak pernah balik ke desa. Gimana ya keadaannya sekarang?Apakah masih seperti dulu. Mandi disungai Musi, lampu PLN belum masuk, kalau malam sepi, dll. Penasaran gimana desaku, silahkan lihat videonya.



Sabtu, 20 Juni 2015

Menanti Kedatangan Prabowo di Masjid Kampus UGM


 
Jamaah sampai pelataran masjid untuk shalat
Di malam ketiga Ramadhan, suasana di masjid Kampus UGM sedikit berbeda. Malam ini akan hadir tokoh Indonesia Prabowo Subianto sebagai penceramah. Banyaknya jamaah tak terbendung hingga harus sampai ke pelataran dan halaman masjid.
Malam ini(20/6/2015), Bapak Prabowo dijadwalkan sebagai pengisi ceramah. Namun apa daya, jamaah sedikit kecewa karena tokoh calon presiden RI ini tidak dapat hadir. Namun, jamaah terobati karena panitia telah menyiapkan penceramah pengganti.
Jalanan penuh dengan kendaraan yang akan masuk ke area kampus UGM. Beberapa jamaah shalat Isya dan Terawih berlari-lari kecil mempercepat menuju arah masjid. Azan sudah berkumandang dan sebentar lagi akan diikuti ikomat.
Aku yang masih dijalan bergegas mempercepat laju kendaraan ku menuju parkiran masjid. Tak disangka parkiran sudah penuh hingga aku harus beralih menuju pintu utara masjid. Menuju tempat wudhu sudah ramai orang mengantri.
Diawal masuk area masjid dengan ramainya orang yang datang, tak terpikirkan oleh ku bahwa akan datang orang penting malam ini. Bagiku biasa-biasa saja jika masjid kampus UGM akan seramai ini karena letaknya yang berada di tengah kota. Setelah wudhu tampak orang-orang sudah pada posisi safnya masing-masing hingga ke pelataran luar masjid. Pelataran luar masjid kampus UGM beralaskan rumput dan semen sehingga orang-orang sibuk mencari kertas Koran untuk alas. Sepertinya mereka juga sama sepertiku, mala mini akan datang sosok penting di negeri ini.

Bada shalat isya panitia mulai berdiri di atas mimbar dan mengumumkan bahwa beliau yang akan berceramah tidak dapat hadir dengan alas an-alasannya. Sedikit kecewa memang. Jamaah cukup terobati dengan pencerama lain yang sudah dipersiapkan dengan materi ceramah yang menghibur dan mengundang gelak tawa para jamaah..

Jumat, 19 Juni 2015

Meet and Greet Andrea Hirata, Launching Novel Ayah 2015

Panggung Mini Meet and Greet Andrea Hirata

Sore hari tampak begitu ramai ditepi jalan Suroto Yogyakarta. Tepat di halaman depan toko buku Togas Mas berdiri panggung kecil dengan backdrop bertuliskan Meet and Greet Andrea Hirata. Tampak peserta mengantri untuk registrasi di meja panitia yang berada di sisi kiri panggung. Tepat pukul 16.00 acara launching buku Novel terbaru Andrea Hirata di Yogyakarta dimulai.

Suasana registrasi peserta 

Acara diawali penampilan Mbak Meda diiringi alunan gitar dan biola dari Neno dan Dika Chasmala. Beberapa menit kemudian acara inti, Sang penulis novel terkenal yang telah menerbitkan 9 novel best seller, Andrea Hirata, memasuki panggung mini yang telah disediakan.
Penampilan Mbak Meda diiringi Neno dan Dika Chasmala

“Yuk, semuanya mendekat.”, Kata Pak cik sapaan akrab penggemar Andrea Hirata. Pak Cik mempersilahkan peserta acara untuk lebih dekat ke panggung. Lebih dari 50 orang berkumpul didepan panggung mengikuti acara dengan seksama.

Pak Cik Andrea menceritakan novelnya

Sang penulis menyapa peserta dengan ramahnya. Selanjutnya Pak Cik mulai bercerita mengenai novel terbarunya ini. Acara diselingi dengan musik yang sudah siap menghibur para penonton. Acara sedikit berbeda menurut penyelenggara, dari bentang pustaka, dengan hadirnya musisi yang didatangkan langsung dari Jakarta dan Belitong.

Pak Cik tak ketinggalan menunjukkan kemampuan musiknya dengan memainkan gitar mengiringia Mbak Melda yang menyanyikan sebuah lagu. Mbak Melda adalah salah seorang penyanyi dan pencipta lagu. Beliau juga menciptakan sebuah lagu yang berjudul Hai Ayah. Lagu ini terinsiprasi dari buku novel Andrea Hirata.

Sebuah lagu Hai Ayah dinyanyikan diiringi Pak Cik Andrea. Makna lagu ini begitu mendalam sehingga mengingatkan kita kepada sosok Ayah yang membesarkan kita.

Diakhir acara penampilan dari Dendi dan Paula yang merupakan anak didik Pak Cik didatangkan langsung dari Belitong. Mereka berdua berdemo gitar diiringi Biola.

Sesi terakhir ditutup dengan sesi tanda tangan sang penulis. Masing-masing peserta berbondong-bondong membawa novel dan menyodorkannya kepada sang penulis. Peserta juga mendapatkan kesempatan untuk foto bareng bersama Pak Cik Andrea. Sang penulis juga menyempatkan diri untuk berterima kasih karena telah membeli karyanya yang asli. 

Dua orang peserta mengumandangkan puisi dari buku novel Ayah


Pak Cik Andrea foto bareng peserta

Pak Cik Andrea menjawab pertanyaan dari peserta

Satu Jam Bersama Syekh Akhmad Samir Albadawi dari Palestina


Syekh Akhmad Samir Albadawi didampingi tim ATC sebagai penerjemah

Malam kedua di Masjid Nurul Ashri, Deresan, Yogyakarta, begitu istimewa dengan kedatangan Syekh Akhmad Samir Albadawi dari Palestina. Kedatangan beliau ke Indonesia untuk menyampaikan informasi terkini mengenai Palestina.
Syekh Akhmad Samir Albadawi menyempatkan diri untuk menjadi imam shalat Isya sekaligus shalat Terawih. Selesai shalat terawih takmir masjid menyiapkan acara untuk tabligh akbar beliau.
Dipandu salah seorang penerjemah dari tim ACT(Aksi Cepat Tanggap) Indonesia, beliau menyampaikan tentang informasi keadaan Palestina terkini. Beliau memperlihatkan beberapa buah foto keadaan kota Gaza di Palestina. Dari foto yang disajikan tampak kota Gaza masih sangat memprihatinkan. Hampir seluruh kota Gaza luluh lantak diserang tentara Israel. 
Bangunan-bangunan seperti sekolah, rumah sakit, dan masjid tidak luput dari bombardir tank-tank dan pesawat Israel. “Gaza dikepung dari darat, laut, dan udara.”, Begitu beliau menyampaikan.
Beliaupun memberi pesan kepada masyarakat Indonesia untuk membantu kota Palestina yang berdiri di dalamnya Masjid Al Aqsa. Beliau mengucapkan terima kasih kepada masyarakat Indonesia yang telah membantu saudara muslim di Palestina. 
Diakhir acara beliau menjawab beberapa pertanyaan yang diajukan oleh para jamaah.




Tembak Paint Ball

Sesi foto bersama sebelum perang

Hari minggu kemarin Aku bersama sembilan orang temen ku bermain Paint Ball. Ini pertama kalinya aku bermain game Paint Ball. Seperti biasa rencana main Paint Ball kami lakukan beberapa hari sebelum hari H, mengingat biasanya rencana yang kami lakukan dari jauh-jauh hari, saat eksekusi hampir gagal.
Kamu punya waktu nggak Yan. Kita mau main Paint Ball bareng Yayat sama Rimai.”, ucap Irwan mengajak ku.
“Boleh. Aku punya waktu kok. Kapan main Paint Ballnya?”, Tanya ku ke Irwan.
“Hari senin besok gimana? Soalnya kalau hari minggu lebih mahal bayarnya.”, Jawab Irwan.
“Kalau hari minggu 70 ribuan. Tapi kalau hari senin sampai kamis cuma bayar 65 ribu.”, ucap Mela yang duduk disamping Irwan sembari menjelaskan detail harga main Paint Ball.
“Ok, cuma orang lima aja?”, Tanya ku lebih lanjut.
“Ajak Muhajir sama Pri. Baru tujuh. Kita butuh tiga orang lagi ini.”, Jawab Irwan enteng.
Hari H pun tiba dan terkumpul 10 orang untuk main Paint Ball. Mereka adalah Aku, Mela, Irwan, Yayat, Rimai, Pri, Muhajir, Pandi, Oobi temennya Pri, dan Pasta temen kita semua. 
Dari tempat berkumpul, di kosan irwan, kami berangkat menuju arena permainan. Perjalanan membutuhkan waktu 30 menit untuk sampai ke tujuan. Arena permainan Paint Ball berada di komplek STTA Adi Sucipto Yogyakarta, Ringroad Timur.
“Ayo briefing!”, kata seorang petugas Paint Ball. Petugas itu akan memberikan arahan permainan dan tata cara bermain.
“Sebelum bermain ada beberapa arahan dari saya. Pemain harus memakai seragam yang telah disediakan berupa baju pelapis dalam/rompi dan pakaian seragam. Sudah di bagi kelompoknya?”
“SUDAHHH”, teriak kami keras. Kami seperti anggota pasukan khusus yang akan pergi berperang. Tujuan dari pembagian regu adalah untuk membedakan antara lawan dan kawan. Petugas melanjutkan penjelasannya.
“Kalau sudah, kostum ada dua warna, loreng putih dan loreng coklat. Masing-masing orang harus memakai helm pelindung. Permainan dibagi menjadi 2 ronde. Aturan permainan kita menggunakan dua aturan. Aturan pertama jika pemain tertembak di bagian kepala atau badan maka dianggap gugur dan harus keluar dari arena permainan. Aturan kedua jika peluru pemain habis maka pemain gugur dan harus keluar dari arena permainan. Ada pertanyaan?”
Kami menggelengkan kepala. Tidak ada pertanyaan. Petugas kembali melanjutkan penjelasannya.
"Jangan pernah membuka pelindung kepala atau helm saat masih berada di arena permainan. Masing-masing pemain akan disediakan enam puluh peluru untuk dua ronde. Jadi ronde pertama tiga puluh peluru. Tapi, kalau permainan cepat selesai, maka akan dilanjutkan di ronde ketiga dengan disediakan sepuluh peluru saja." Kami mengangguk-ngangguk tanda mengerti. Penjelasan masih berlanjut. Petugas beralih menjelaskan senjata yang akan kami gunakan untuk menembak.
“Ini namanya Marker/senjata yang digunakan untuk menembak lawan main. Kami menyediakan 30 peluru untuk ronde awal yang berada di dalam Loader/rumah peluru. Samping kiri dan kanan dari marker ada tombol kecil. Tombol ini berfungsi untuk mengaktifkan pelatuk. Kalau saya bilang ‘hit on’ maka tombol kanan ditekan kedalam. Kalau saya bilang ‘hit off’ maka tombol kiri ditekan kedalam. Paham ya!”
“PAHAAMMM”, teriak kami keras.
"Kalau tidak ada pertanyaan, siap-siap pakai sepatu. Kalau tidak memakai sepatu tidak usah pakai alas kaki alias ceker ayam saja."
Briefing pun selesai. Selanjutnya, kami memakai seragam permainan beserta perlengkapan intinya.
Arena permainan sudah diset sedemikian rupa dengan balon-balon udara berbagai bentuk sebagai tameng atau untuk sembunyi dari lawan. Tembak menembak pun terjadi. Belum sampai lima menit permainan, Muhajir yang satu regu dengan ku tertembak dibagian kepala-tepatnya kena helm bagian kacamata. Muhajir mengangkat tangan dan teriak.
“Aku kena.” 
Cairan kuning menempel di helm Muhajir. Secara aturan yang telah dibuat Muhajir harus keluar arena karena telah gugur dimedan perang. Kalompok ku tinggal 4 orang. Kami saling membidik satu sama lain. 
Dan akhirnya regu ku yang terdiri dari aku, Muhajir, Mela, Pandi, dan Pri harus mengakui keunggulan lawan yang terdiri dari Irwan, Yayat, Rimai,Obi, dan Pasta. Sungguh menyakitkan.
Dironde kedua kami menyiapkan strategi menyerang dari samping, dan begitu juga kelompok Irwan yang menyerang dari samping. Dua regu sama-sama menyerang dari samping.
Ronde kedua berjalan lebih seru dari ronde pertama. 
“Aduh, pantatku kena!”, Ucap Pri keras dari balik balon memegang pantatnya yang kena tembak. Sesuai dengan aturan permaian yang kena pantat belum terhitung gugur. Pri masih melaju dimedan perang.
Satu demi satu pemain keluar dari persembunyiannya dengan mengangkat tangan tanda telah gugur. Termasuk diriku sendiri yang terkena tembak dibagian kepala. Setelah permainan bari ku tahu peluru yang bersarang dikepalaku dari senapan irwan. Aku mati.
Meskipun peperangan berlangsung lama, bukan berarti peperangan berjalan dengan baku tembak ala perang Irak, sengit. Melainkan kami sama-sama menunggu dan membidik supaya tepat sasaran dan tidak membuang peluru sia-sia. Permainan kembali dimenangkan oleh regu Irwan. Poin 2-0 untuk Irwan dan teman-teman.
Karena peluru yang digunakan pada ronde 1 dan ronde masih tersisa, berdasarkan penjelasan diawal maka akan ada ronde ke 3 dengan disediakan 10 peluru saja. Aturan ronde ketiga berbeda dengan ronde sebelumnya. Aturan ronde ke tiga adalah tidak ada yang dianggap gugur sampai peluru habis. Artinya adalah pemain bisa menembak sepuasnya ke arah lawannya sampai peluru habis.
Ronde ketiga pun berlanjut. Setelah aba-aba dimulai tembakan membabi buta terjadi. Karena aturan gugur jika peluru habis, maka ronde ini menjadi ajang pertempuran jarak dekat. Semua pemain menembak dari Jarak dekat.
Pandi berlari dari balik balon udara menuju irwan yang berjarak beberapa meter didepan Pandi dan juga bersembunyi dari balik balon. Serangan dekat Pandi ke Irwan berjalan dengan sukses. Sialnya serangan terjadi saat senapan Irwan lagi macet sehingga peluru tidak terlontar keluar saat di tarik pelatuknya. Tanda bulat merah membekas di tubuh Irwan.
Pandi juga menjadi sasaran empuk bagi teman-teman Irwan yang berada disamping kiri dan kanan Irwan. Pandi keluar arena memegang bagian tubuhnya yang terkena tembak sambil  meringis kesakitan.
Akupun harus keluar dengan menahan rasa sakit karena tertembak dibagian lengan dan bagian pantat 2 kali. Namun aku sempat mengenai lawan di bagian kepala. Itu siapa ya?
Permainan pun selesai dengan suasana senang gembira. Meskipun harus menahan rasa sakit karena tertembak, namun kebersamaan terjalin dengan Indah.